Hidup Mati PLTU Tua Bukit Asam di Muara Enim
MUARA ENIM, RHIZOMA – PLTU Bukit Asam Muara Enim milik PT PLN (Persero) terletak di Kabupaten Muara Enim, Lawang Kidul, Sumatera Selatan. PLTU Bukit Asam memiliki total kapasitas 260 MW yang terbagi ke empat unit pembangkit. Masing-masing pembangkit berkapasitas 65 MW. PLTU Bukit Asam unit satu dan unit dua beroperasi sejak tahun 1987 dan unit tiga dan unit empat beroperasi sejak tahun 1994.[1] PLTU Bukit Asam menggunakan teknologi subcritical. Pasokan batu bara untuk PLTU Bukit Asam berasal dari tambang yang bedekatan dengan lokasi PLTU Bukit Asam.[2] PLTU Bukit Asam unit satu dan dua sudah berusia 37 tahun, dan unit tiga dan empat sudah berusia 30 tahun. Berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) dengan University of Maryland (UMD) pada tahun 2022, terdapat 12 PLTU yang diidentifikasi sebagai Low Hanging Fruits (LHF) karena secara teknis, ekonomi, dan dampak lingkungan sangat buruk.[3] PLTU Bukit Asam termasuk dalam daftar 12 PLTU tersebut. Per Desember tahun 2022 PLTU Bukit Asam menggunakan teknologi co-firing biomassa.[4] Sebagai gambaran, co-firing biomassa adalah metode pencampuran batu bara dengan biomassa yang berasal dari berbagai bahan baku, seperti pelet kayu (wood pellet), pelet sampah, serbuk kayu, cangkang sawit, serbuk gergaji, dan sekam padi. Skenario yang diuji dalam riset untuk co-firing ini yakni skala 5 persen biomassa (95 persen batu bara) hingga 10 persen biomassa (90 persen batu bara).[5] Menurut temuan dari laporan dari Trend Asia tahun 2022, teknologi co-firing biomasssa ini tidak mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan batu bara di PLTU. Data Statistik PLN 2021 menunjukkan, penggunaan biomassa 282.628 ton, naik signifikan dari 9.731 ton pada 2020. Pada saat yang sama, penggunaan batubara juga naik menjadi 68,47 juta ton, dari 66,68 juta ton pada 2020.[6]
Seiring kian gencarnya penerapan co-firing, PLN membutuhkan pasokan biomassa dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Apalagi, PLN menargetkan implementasi co-firing di 52 lokasi atau 107 unit PLTU yang ada di seluruh Indonesia hingga 2025. Hasil perhitungan Trend Asia, dengan asumsi jenis biomassa yang digunakan adalah pelet kayu (wood pellet) dan tingkat co-firing 10 persen, kebutuhan biomassa 107 PLTU yang berkapasitas total 18,8 gigawatt itu mencapai 10,23 juta ton per tahun.[7] Jika kita asumsikan, kebutuhan pelet kayu setiap PLTU sebanyak 95,607 ribu ton per tahun. Co-firing 10 persen biomassa di 107 unit PLTU berpotensi menghasilkan total emisi hingga 26,48 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) per tahun. Emisi itu muncul mulai dari deforestasi, pengelolaan Hutan Tanaman Energi (HTE) hingga produksi pelet kayu. Alih-alih berkurang, pencampuran biomassa-batubara ini malah menambah emisi dari PLTU yang dalam RUPTL 2021-2030 diproyeksikan terus naik menjadi 298,9 juta ton CO2e pada 2030.[8]
Provinsi Sumatera Selatan sendiri sampai saat ini di kelilingi oleh pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, ditambah lagi dengan masifnya pembangunan PLTU batu bara. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Selatan, dari tahun 2015 sampai tahun 2023, tiga kasus penyakit yang paling banyak ditemukan yaitu penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare dan hipertensi.[9] Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (tahun 2021 – 2023), jumlah kasus penyakit ISPA di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 1,090,830 kasus. Di Kabupaten Muara Enim sendiri, selama kurun waktu dari tahun 2008 ke tahun 2017, penyakit ISPA menduduki posisi yang tertinggi dengan rata-rata 25,45% dari total kunjungan kasus per tahun. Kasus penyakit ini banyak terjadi di wilayah kerja puskesmas Tanjung Agung, Tanjung Enim, Teluk Lubuk, dan Ujan Mas. Tingginya kunjungan kasus ISPA di kabupaten Muara Enim karena di beberapa wilayah merupakan areal industri ekstraktif seperti pertambangan batu bara, migas, pencetakan batu bata, pemecahan batu. Beberapa area wilayah lain merupakan bagian dari jalur perjalanan darat Lintas Tengah Sumatera salah satunya mobil–mobil truk yang bermuatan batu bara.[10] Pada tahun 2022, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Institute For Essential Services Reform (IESR) memperkirakan bahwa emisi pembangkit listrik batubara di Indonesia pada tahun 2022 bertanggung jawab atas 10.500 kematian akibat polusi udara dan beban ekonomi sebesar Rp 109,9 triliun (US$7,4 miliar) dari dampak kesehatan terkait.[11]
Dampak kesehatan, lingkungan dan ekonomi sudah dirasakan oleh masyarakat di provinsi Sumatera Selatan dari aktivitas hulu hingga hilir batu bara. Dengan keseriusan pemerintah untuk melakukan transisi energi, angka kematian masyarakat dan beban ekonomi kesehatan dapat dihindari. Berdasarkan data diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa teknologi co-firing PLTU batu bara hanya siasat yang dilakukan pemerintah untuk terus mengoperasikan PLTU batu bara tua yang seharusnya sudah pensiun secara alami (Natural Retirement). Ambisi pemerintah untuk mengurangi emisi melalui penggunaan teknologi co-firing di PLTU batu bara hanyalah ilusi. Masyarakat Sumatera Selatan berhak untuk mendapatkan kembali udara yang bersih dan lingkungan hidup yang sehat. Segera pensiunkan PLTU batu bara “tua” Bukit Asam Muara Enim.[]
[1] Global Energy Monitor Wiki, https://www.gem.wiki/Bukit_Asam_Muara_Enim_power_station , Di akses pada 23 September 2024
[2] Global Energy Observatory, https://globalenergyobservatory.org/geoid/43057 , Di akses pada 23 September 2024
[3] Financing Indonesia’s coal phase-out: A just and accelerated retirement pathway to net-zero, Institute For Essential Services Reform & University of Maryland, 2022
[4] Bukit Asam’s Strong Commitment to Reduce Emissions, https://www.ptba.co.id/news/bukit-asams-strong-commitment-to-reduce-emissions-1710 , Di akses pada 23 September 2024
[5] Riset Terbaru : Beda dengan Klaim Pemerintah Co-Firing Biomassa di Indonesia Menambah Emisi Gas Rumah Kaca. Trend Asia. https://trendasia.org/riset-terbaru-beda-dengan-klaim-pemerintah-co-firing-biomassa-di-indonesia-menambah-emisi-gas-rumah-kaca/ , Di akses pada 25 September 2024
[6] Ibid
[7] Adu Klaim Menurunkan Emisi. Trend Asia. 2022
[8] Ibid.
[9] Jumlah Kasus Penyakit Menurut Jenis Penyakit. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. https://sumsel.bps.go.id/id/statistics-table/2/MzY4IzI=/jumlah-kasus-penyakit-menurut-jenis-penyakit.html , Di akses 26 September 2023
[10] Profil Kesehatan Kabupaten Muara Enim. Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim. 2017.
[11] Health and Benefit of Just Energy Transition and Coal Phase Out in Indonesia. Centre for Research on Energy and Clean Air dan Institute For Essential Services Reform. 2022
[1] Global Energy Monitor Wiki, https://www.gem.wiki/Bukit_Asam_Muara_Enim_power_station , Di akses pada 23 September 2024
[1] Global Energy Observatory, https://globalenergyobservatory.org/geoid/43057 , Di akses pada 23 September 2024
[1] Financing Indonesia’s coal phase-out: A just and accelerated retirement pathway to net-zero, Institute For Essential Services Reform & University of Maryland, 2022
[1] Bukit Asam’s Strong Commitment to Reduce Emissions, https://www.ptba.co.id/news/bukit-asams-strong-commitment-to-reduce-emissions-1710 , Di akses pada 23 September 2024
[1] Riset Terbaru : Beda dengan Klaim Pemerintah Co-Firing Biomassa di Indonesia Menambah Emisi Gas Rumah Kaca. Trend Asia. https://trendasia.org/riset-terbaru-beda-dengan-klaim-pemerintah-co-firing-biomassa-di-indonesia-menambah-emisi-gas-rumah-kaca/ , Di akses pada 25 September 2024
[1] Ibid
[1] Adu Klaim Menurunkan Emisi. Trend Asia. 2022
[1] Ibid.
[1] Jumlah Kasus Penyakit Menurut Jenis Penyakit. Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. https://sumsel.bps.go.id/id/statistics-table/2/MzY4IzI=/jumlah-kasus-penyakit-menurut-jenis-penyakit.html , Di akses 26 September 2023
[1] Profil Kesehatan Kabupaten Muara Enim. Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim. 2017.
[1] Health and Benefit of Just Energy Transition and Coal Phase Out in Indonesia. Centre for Research on Energy and Clean Air dan Institute For Essential Services Reform. 2022