Pensiun Alami Untuk PLTU Batu Bara Tua Suralaya
BANTEN, RHIZOMA – PLTU Suralaya milik PT Indonesia Power Suralaya (PLN Group) terletak di Pulomerak, Cilegon, Banten, Indonesia, sudah beroperasi sejak tahun 1984. PLTU batu bara tua Suralaya memiliki kapasitas 3400 MW yang terbagi ke 7 unit. Fase 1 unit 1 sampai 4 berkapasitas 1 x 400 MW beroperasi sejak tahun 1984 – 1985 – 1988 – 1989. Fase 2 unit 1 sampai 3 berkapasitas 1 x 600 MW beroperasi sejak tahun 1996 dan 1997.[1] 7 unit PLTU Suralaya ini menggunakan teknologi subritical yang dirancang untuk mencapai efisiensi termal hanya 38% dan menghasilkan karbon ≥880 gCO₂ untuk setiap kwh listrik yang dihasikan dari setiap konsumsi batu bara ≥380 g/kwh.[2] Pasokan batu bara untuk PLTU Suralaya berasal dari penambangan batu bara Bukit Asam di Sumatera Selatan.[3]
PLTU Suralaya sudah beroperasi lebih dari 25 tahun bahkan usia unit 1 mencapai 40 tahun. Saat ini pemerintah lebih memilih pendekatan coal phase down untuk unit 1 sampai 4 dengan mengurangi kapasitas secara bertahap dan menyesuaikan fluktuasi beban listrik yang ada. Penurunan penggunaan batu bara ini masih diangka 85% sampai 90%.[4] Dalam masa penurunan ini, PLN menggunakan teknologi co-firing atau substitusi bahan bakar batu bara dengan limbah serbuk kayu atau sawdust, woodchip, cangkang sawit, atau Solid Recovered Fuel (SRF) yang berasal dari sampah. PLN telah menggunakan teknologi co-firing sejak 2020 silam.[5] Untuk PLTU Suralaya, biomassa yang digunakan merupakan hasil dari pengelolaan sampah kota Cilegon menjadi Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP). Produksi sampah kota Cilegon dapat diolah untuk mensubtitusi 5 persen kebutuhan batu bara di PLTU Suralaya.[6] Penggunaan teknologi co-firing ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dengan menggunakan rasio tertentu agar operasional PLTU terus berlangsung. Padahal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan terdapat kondisi over supply listrik di Jawa-Bali sebesar 4 gigawatt (GW).[7] Kelebihan pasokan atau over supply listrik RI dalam satu dekade terakhir ini rata-rata mencapai 25% setiap tahunnya. Angka tersebut dipastikan akan terus meningkat hingga beberapa tahun mendatang.[8] Kelebihan pasokan listrik ini dapat membebani keuangan negara dengan subsidi dan kompensasi yang harus diberikan.
Selain membebani ekonomi negara, dampak lainnya dari operasional PLTU Suralaya adalah menghasilkan polusi yang tinggi dan berkontribusi pada kematian masyarakat. Laporan Center for Research Energy and Clear Air (CREA) pada bulan Juni 2024 memperkirakan bahwa polusi udara dari PLTU Suralaya Unit 1-4 dikaitkan dengan 401 kematian per tahun dan beban ekonomi tahunan termasuk kematian, biaya kesakitan di rumah sakit dan dan biaya ketidakhadiran kerja yang mencapai Rp 4,22 triliun (US$ 284 juta).[9] Polusi tidak mengenal batas wilayah. Dampak kesehatan dan kematian ini juga tidak hanya dirasakan oleh warga di sekitar PLTU Suralaya Banten saja, namun juga sampai ke warga lintas provinsi terdekat seperti Jawa Barat, Jakarta Raya sampai ke Jawa Tengah.[10]
Berdasarkan fakta dan data diatas, PLTU Suralaya seharusnya sudah pensiun secara alami / Natural Retirement. Selain dapat menghindari beban keuangan negara untuk biaya subsidi listrik yang besar, pensiun alami / Natural Retirement PLTU batu bara dapat menghindari biaya beban kesehatan dan ekonomi masyarakat. Segera pensiunkan PLTU Suralaya secara alami demi menyelamatkan kita dan generasi anak – cucu kita mendatang dari ancaman multi bencana katastrope. Sebarkan dan gemakan pesan ini, kita dapat mewujudkannya dengan bantuanmu![]
[1] Banten Suralaya Power Station, Global Energy Monitor Wiki, https://www.gem.wiki/Banten_Suralaya_power_station , di akses 19 September 2024
[2] Technology Roadmap, International Energy Agency, 2012.
[3] Suralaya Coal Power Plant Indonesia, Global Energy Observatory, https://globalenergyobservatory.org/geoid/41517 , di akses 19 September 2024
[4] PLN Kaji Suntik Mati PLTU Suralaya 3 dan 4, Kontan.co.id, https://industri.kontan.co.id/news/pln-kaji-suntik-mati-pltu-suralaya-3-dan-4#google_vignette , di akses 19 September 2024
[5] Tekan Emisi Lewat Co-Firing, PLN Hasilkan Listrik Hijau 96 Ribu MWh dari 28 PLTU. Siaran Pers. https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2022/03/tekan-emisi-lewat-co-firing-pln-hasilkan-listrik-hijau-96-ribu-mwh-dari-28-pltu , di akses 20 September 2024
[6] PLN Serap Sampah Kota Cilegon untuk Diolah Jadi Bahan Bakar Co-firing PLTU Suralaya. Siaran Pers. https://web.pln.co.id/media/2022/06/pln-serap-sampah-kota-cilegon-untuk-diolah-jadi-bahan-bakar-co-firing-pltu-suralaya , di akses 20 September 2024
[7] Oversupply Listrik Jawa-Bali Masih 4 GW, Diupayakan Selesai 2026. Katadata.co.id. https://katadata.co.id/berita/energi/65a8d353a23d8/oversupply-listrik-jawa-bali-masih-4-gw-diupayakan-selesai-2026 , di akses 20 September 2024
[8] Bukan Mengada-ada, Ini Bukti Nyata Over Supply Listrik PLN. CNBC Indonesia, https://www.cnbcindonesia.com/news/20220930174544-4-376381/bukan-mengada-ada-ini-bukti-nyata-over-supply-listrik-pln , di akses 19 September 2024
[9] Health and economic benefits from early phase out of Indonesia’s first JETP coal power plants , Centre for Research Energy and Clear Air, 2024.
[10] Health Benefits of Just Energy Transition and Coal Phase-out in Indonesia , Institute for Essential Service Reform dan Centre for Research Energy and Clear Air , 2023.