Rhizoma Indonesia Ungkap Hasil Riset Awal Dampak Rencana Pembangunan PLTGU di Desa Celukan Bawang terhadap Aspek Sosial-Ekonomi, Biodiversitas, dan Iklim.

 

Denpasar, 19 September 2026

Rhizoma Indonesia, organisasi yang bergerak dalam bidang riset dan advokasi lingkungan, menggelar kegiatan “Diseminasi Hasil Riset Awal dan Pemutaran Film terkait Rencana Pembangunan Pembangkit Gas Celukan Bawang, Bali” pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 12.30 – 18.00 WITA, bertempat di Berbagi Ruang dan Kopi, Jl. Astasura No. 91, Peguyangan Kangin, Denpasar Utara, Bali.

Kegiatan ini menjadi ruang publik pertama untuk menyampaikan temuan awal dari penelitian “Penilaian Persepsi Masyarakat dan Analisis Potensi Dampak Rencana Pembangunan PLTGU di Desa Celukan Bawang, Bali”, yang menyoroti tiga isu utama:

  1. Sosial-Ekonomi: tingkat pengetahuan, partisipasi, keterlibatan, dan kerentanan ekonomi masyarakat Celukan Bawang terhadap rencana pembangunan PLTGU.
  2. Biodiversitas: perairan Celukan Bawang merupakan wilayah jelajah lumba-lumba yang menopang industri wisata dolphin watching di Bali Utara, serta memiliki sebaran terumbu karang. Penelitian menggunakan pendekatan analisis spasial berbasis GIS untuk memetakan tingkat sensitivitas kedua ekosistem tersebut terhadap limba dampak hipotetik pembangunan PLTGU, yakni (1) kepadatan lalu lintas laut, (2) kebisingan bawah laut, (3) air bahang, dan (4) sedimentasi.
  3. Iklim: potensi kebocoran emisi fugitif yang kontinu dari praktik regasifikasi LNG dikaji melalui pemodelan dispersi dan kalkulasi GWP20.

Rencana PLTGU Celukan Bawang (PLTGU Jawa-Bali 6) berkapasitas 450 MW akan dibangun di atas eks-lahan rencana PLTU batubara ekspansi yang batal terealisasi pada 2018 lalu. PT PLTG Celukan Bawang bersama Electric Power Development Co. Ltd (J-Power) telah menandatangani perjanjian pembangunan bersama untuk proyek ini dan studi rona awal oleh konsultan lingkungan telah dilaksanakan pada 17 September – 17 Oktober 2025. Rhizoma Indonesia menilai penting untuk melakukan penelitian independen mengingat pengalaman masyarakat pada rencana pembangunan PLTU tahap dua pada 2018, dimana partisipasi masyarakat dinilai belum menjadi prioritas dalam proses perencanaannya.

Sesi diseminasi dibuka dengan pemaparan hasil penelitian tersebut selama 45 menit dan diikuti tanggapan oleh dua ahli penanggap, yakni I Made Jaya Ratha (CETASI) dan Dr. Gede Iwan Setiabudi (UNDIKSHA). Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab terbuka untuk memberikan ruang bagi peserta undangan berdiskusi langsung dengan tim peneliti maupun ahli penanggap.

Selepas jeda (coffee break), acara di lanjutkan dengan pemutaran film dokumenter berjudul “Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali” garapan sutradara Rai Astrawan. Film ini mengangkat suara dan perspektif warga serta berbagai pemangku kepentingan terkait rencana pembangunan PLTGU di Celukan Bawang, dengan menghadirkan lima narasumber:

  1. Supriyadi, Ketua Kelompok Nelayan Bakti Kosgoro;
  2. Rezky Pratiwi, Direktur LBH Bali;
  3. Faisal Ratuela, Pengkampanye WALHI Nasional;
  4. Roberto Hutabarat, Koordinator Don’t Gas Indonesia;
  5. Amanda Paramerta, Peneliti Komunitas Rhizoma Indonesia.

 

Pemutaran film berlangsung selama 30 menit dan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama peserta, membuka ruang bagi berbagai perspektif untuk didiskusikan secara langsung. Kegiatan ini mengundang partisipasi luas dari organisasi masyarakat sipil, media, akademisi, dan komunitas lingkungan di Bali sebagai bagian dari upaya membuka ruang diskusi dan pemantauan bersama atas rencana pembangunan yang berdampak pada ruang hidup warga Celukan Bawang.

Rhizoma Indonesai

Tim Riset Rhizoma

Rhizoma Indonesia

http://rhizomaindonesia.org

Rhizoma Indonesia adalah organisasi nirlaba berbasis relawan yang berfokus pada advokasi dan kampanye lingkungan untuk mendorong transisi energi yang adil, menghentikan eksploitasi alam, serta mencegah krisis iklim demi keberlanjutan hidup masyarakat.