preloader

PELATIHAN KRISIS IKLIM DAN TRANSISI ENERGI DORONG KESADARAN GENERASI MUDA CILACAP TERHADAP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

PELATIHAN KRISIS IKLIM DAN TRANSISI ENERGI DORONG KESADARAN GENERASI MUDA CILACAP TERHADAP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan masifnya pembangunan industri di Kabupaten Cilacap, puluhan mahasiswa, pelajar, komunitas, dan kelompok masyarakat sipil berkumpul dalam Pelatihan Krisis Iklim dan Transisi Energi yang diselenggarakan oleh Rhizoma Indonesia bersama LBH Yogyakarta dan WALHI Jawa Tengah pada 23–24 Mei 2026 di Dusun Winong, Cilacap.

Kegiatan ini hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang konsolidasi bagi generasi muda untuk memahami keterkaitan antara krisis iklim, pembangunan, industri energi fosil, hak-hak masyarakat, dan masa depan lingkungan hidup. Tidak hanya membahas persoalan lingkungan, pelatihan ini juga mengajak peserta melihat bagaimana krisis iklim berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, ketenagakerjaan, hingga hak asasi manusia.

Hari pertama dibuka dengan materi pembangunan berkelanjutan yang disampaikan oleh Wahyu Widianto dari Rhizoma Indonesia. Dalam pemaparannya, Wahyu mengajak peserta memahami berbagai madzhab etika lingkungan yang memengaruhi cara pandang manusia terhadap alam. Ia juga menjelaskan perbedaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dan tidak dapat diperbarui, serta pentingnya hukum keberlanjutan sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Diskusi kemudian berlanjut pada isu pengorganisiran rakyat bersama Fahmi Bastian dari WALHI Jawa Tengah. Dalam sesi ini, peserta mempelajari tugas dan peran pengorganisir, prinsip-prinsip organisasi rakyat, tujuan pengorganisiran, hingga strategi membangun gerakan kolektif dalam menghadapi persoalan lingkungan dan ketidakadilan sosial. Berbagai pengalaman peserta dari wilayah yang berbeda turut memperkaya diskusi mengenai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam memperjuangkan hak atas lingkungan hidup.

Memasuki malam hari, suasana pelatihan berubah menjadi ruang refleksi melalui pemutaran dan bedah film Maos bersama Tofik Suseno dari Komunitas Sangkan Paran. Film yang mengangkat sejarah batik Cilacap dan kehidupan masyarakat pesisir tersebut mengajak peserta melihat bagaimana identitas lokal, budaya, dan ruang hidup masyarakat terus berhadapan dengan perubahan akibat industrialisasi dan pembangunan.

Hari kedua diawali dengan sesi advokasi yang disampaikan oleh Miftahul Huda dari LBH Yogyakarta. Peserta diperkenalkan pada berbagai strategi advokasi litigasi dan non-litigasi yang dapat digunakan untuk memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selain jalur hukum, peserta juga diajak memahami pentingnya kampanye publik, pendidikan kritis, dan pengorganisasian masyarakat sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan kebijakan.

Materi terakhir disampaikan oleh Danang Kurnia dari LBH Yogyakarta yang membahas isu perburuhan ditengah industrialisasi dan transisi energi. Peserta diajak memahami hak-hak dasar pekerja, pentingnya kebebasan berserikat, serta tantangan yang dihadapi buruh di tengah perubahan model pembangunan dan industri. Diskusi ini menjadi penting karena transisi energi yang berkeadilan tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga memastikan perlindungan terhadap kelompok pekerja yang terdampak.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan dan keadilan sosial di Cilacap. Pertukaran pengalaman, gagasan, dan refleksi selama dua hari menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Nani Suwarni dari Keluarga Besar Buruh Migran (KABAR BUMI) mengaku mendapatkan banyak pemahaman baru setelah mengikuti pelatihan tersebut. “Setelah ikut pelatihan saya jadi lebih paham tentang isu PLTU yang ada di Cilacap dan dampaknya bagi warga sekitar. Saya juga jadi tahu tentang kerusakan lingkungan di beberapa daerah di Cilacap. Dengan kondisi tersebut, saya ingin ikut menjadi bagian untuk terus memperjuangkannya,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Hawa dari Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Politeknik Negeri Cilacap. Menurutnya, pelatihan ini memberikan perspektif yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah. “Materinya bukan cuma soal lingkungan, tetapi juga membahas advokasi, transisi energi, sampai hak-hak masyarakat dan buruh. Dari situ saya jadi sadar kalau persoalan lingkungan ternyata sangat luas dan saling berkaitan dengan banyak aspek. Ke depan saya ingin lebih aktif mengikuti diskusi, memperluas relasi, dan ikut berkontribusi dalam kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ridwan Nawawi dari LPM Dialektika Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali menilai bahwa kekuatan utama pelatihan ini terletak pada ruang temu yang berhasil mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. “Bagi saya, hal paling berkesan dari pelatihan ini adalah ruang temunya. Dari proses persiapan sampai pelaksanaan, forum ini berhasil mempertemukan berbagai elemen, mulai dari aktivis, mahasiswa, hingga warga Cilacap sendiri. Banyak di antara kita yang sebelumnya belum pernah bertemu akhirnya bisa duduk bersama. Momentum ini memperkuat solidaritas jaringan di daerah. Saya berharap jaringan dan gerakan di Cilacap bisa terus solid dan berkembang menjadi aksi kolektif untuk mengawal berbagai isu di Cilacap secara bersama-sama,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, penyelenggara berharap lahir semakin banyak generasi muda yang tidak hanya memahami persoalan krisis iklim dan transisi energi secara teoritis, tetapi juga mampu mengambil peran dalam membangun gerakan masyarakat, memperkuat solidaritas, serta mendorong terwujudnya pembangunan yang lebih adil, demokratis, dan berkelanjutan di Cilacap.

 

Penulis : Parid SH

 

Tags